ku lipat lututku dan ku tundukkan kepalaku
Banjir ??? emang ih banyak sekali berita di TV tentang ini. sebelum Jakarta terkena banjir kemarin Aceh lebih dulu banjir dengan tanpa ampun. sebetulnya ngga ngebayang dimana daerah yang sedang merangkak untuk berbedah diri gara-gara gempa dan Tsunami, itu pun belum selesai sama sekali, sekali lagi di terpa bencana yang ama sangan yaitu banjir. Tapi aku sama sekali tidak ngebayang untuk hal yang seperti itu. Gimana mau ngebayang, liat pun hanya di TV dan tidak detail seperti Banjir diJakarta.
Sejak jumat kemarin Jakarta menjadi lautan, sediiihhhhhh banget kalo ngeliat dimana orang hari tidur di trotoar jalan, haru mencuci dan mandi di jalan yang sangat kotor seperti di tengah jalan Jatinegara barat dan darus tidur di parkiran mobil di pasar Mester yang sudah dipastikan kotor dan sudah terbayang apa saja yang ada disana…sedih banget.
Aku bersyukur dengan tiada tepi , gimana ngga dirumah tidak ada air yang masuk. Maluuuu sama diri sendiri waktu aku mengeluh karena harus menjinjing ember untuk mengambil air dari luar karena air PAM di ruma mati karena terkena banjir pula. Harus nya kulipat lututku dan kutundukkan kepalaku untuk membuang rasa sombong walau sedikitpun dan memohon ampun dengan segala apa yang tadinya terpikir dan harus banyak bersyukur karena aku masih dapat menikmati listrik yang tidak dimatikan, dan tidak kedinginan diwaktu malam.
Ya Allah ampunilah umatMU dari segala perbuatannya. berilah dan cintailah bangsa ini. Ringankan cobaan mereka dan berikannlah ganti yang lebih baik untuk kehilangan mereka. Amien. (nad)
Cerita ini diilhami dari kisah nyata. nama dan tempat tentunya diganti. tentang cerita ini Akupun tidak tahu kenapa orang begitu mudahnya terbakar nafsu amarahnya hanya dengan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. kadang manusia tidak sadar bahwa tidak selamanya kita diatas. bumi ini berputar kadang diatas dan kadang dibawah. Yang paling menyedihkan bahwa bila kita sedang diatas tetapi kita tidak dapat merasakan kaki kita menapak dibumi. Allah SWT tidak pernah tidur.
"Jadikan dirimu menjadi manfaat untuk banyak orang, Janganlah hidup dengan menyusahkan banyak orang" -nad.
Photo:Topeng monyet
pagi hari tepat pukul 10.00, Agus bersama temannya Amir memanggul peralatan Topeng monyet, seperti biasanya si Amir membantu dengan mengendong Monyet sewaannya "manis". berjalan menyusuri kampung demi kampung dengan mencari kampung pelanggan. Lumayan penghasilan dari pertunjungan Agus dan Amir biasanya cukup untuk makan dan membayar sewaan si "manis".
Perjalanan Agus dan Amir berhenti di sebuah kampung langganan mereka "gang warna". sambil menunggu pelanggan biasanya dia berhenti sambil membunyikan genderang yang dia bawa. biasanya pula tidak sampai lama anak-anak berkumpul ditemani ibu-ibu mereka.
Hari ini mungkin bukan hari keberuntungan buat mereka baru sampai Amir dan Agus di depan rumah Pak jaja "sang purnawirawan Polisi", belum lagi dia menabuh genderang pak jaja beserta anaknya yang agak terbelakang si Panji keluar rumah sambil menghardik.
"jangan disini, sana kalian"
"maaf pak, saya hanya mencari sesuap nasi" sambut Agus memohon.
"kalo kalian tak pergi aku akan pukuli kao", kata Pak Jaja tiada ampun di sambut anggukan Panji dengan muka bloonnya.
"ya, maaf pak" "coba saja", tantang Agus dengan pikiran bahwa Pak Jaja tidak mungkin tega untuk memukul mereka.
Tidak dalam hitungan jari pun, tangan Pak Jaja yang sudah di kepal memukul Agus tepat di dagu dan perutnya dengan tiada ampun. Tentunya dengan dibantu si Panji yang tak mau kalah dengan Ayahnya mendapat bagian memukuli Amir yang tadi hanya sempat terbengong-bengong. Teriakan keduanya pun keluar dari mulut mereka.
Mana mungkin Agus dan Amir bisa menang melawan Pak Jaja, Pak Jaja walaupun telah berusia hampir 65 tahun tapi pasti lebih kuat dari pada Agus dan Amir yang berbadan kurus dan belum genap 14 tahun.
Penganiayaan pun berlangsung dengan gencarnya dan tanpa ampun, tetangga yang lain mau membantu untuk memisahkan penganiayaan itu, tapi itu pun di tampik oleh pak Jaja yang sudah di kuasai oleh setan tentunya. Memang Pak Jaja terkenal dengan sifat yang buruk, sering kali dia suka mencari gara-gara dengan tetangganya. Untung saja Para tetangga yang terbilang berusia lebih muda dari beliau mencoba diam dan memaklumi dia dengan terpaksa.
Belum selesai dengan Agus dan Amir, perhatian terpecah karena Monyet mereka "si manis menjerit-jerit ketakutan karena melihat majikannya tumbang. Tapi tidak sampai disitu,dengan yang masih branggas mereka berdua pun melempar monyet itu dengan batu, "Aiiiikkkkkkkkkk" si manis menjerit dan tumbang kontan, tanpa menunggu kesempatan membalas.
Penganiayaan ahirnya berahir, Pak jaja dan panji meninggalkan mereka seperti pemenang yang telah mendapatkan piala. Agus dan Amir yang tadi tumbang masih sanggup berdiri dan membenahi peralatan mereka. Direngkuhnya dan dipeluknya "si manis" yang tadi tumbang. monyet kecil ini lemas lunglai tak berdaya, ketakutan dan rasa sakit akibat lemparan batu masih terasa tentunya.
Dengan wajah yang agak lebam dan muka yang terlihat pasrah karena mereka tak mendapatkan uang hari ini dan sudah tergambar di wajah Agus dan Amir Hutang yang akan mereka hadapi kepada pemilik "si manis" pasti akan ditagih. Apa salah ku? saya tak mencuri, saya mencari uang yang halal. Setetes Air mata jatuh di pipi mereka berdua dalam perjalanan pulang.
Pagi ini telah pukul 10.30, perjalanan pulang dengan jalan kaki akan ditempuh sambil mengendong "si manis" yang semakin lemas dan lemas dan pergi. Tangis tak dapat dibendung oleh mereka, bukan hanya karena "si manis" yang pergi, tapi karena hutang dan cari maki yang pasti akan menanti mereka. Apa salahku? (end-nad)

tanggal 28 october kemarin tu jalan-jalan ke pasar mester…sepi banget nih pasar…tumben. setelah mendapatkan apa yang di mau, na jalan pulang sambil lirik kanan dan lirik kiri. suka-suka nemu yang aneh-aneh, maksud hati pengen nyari cincau hijau dan ‘jongkong’ sih…:)
tiba-tiba ada seorang bapak lagi duduk sambil menunggu dagangannya, diliatin…diliatin apakah itu…wahhhhh….waooowwww….jammmblangggggg….nemuuuu, ada bapak penjuang jamblang. wahhh dan bertahun-tahun ngga nemu anggur indo (kata nadrah) ini…hehehheheh…kangennnn. beli lahhh….pauassstiiiii…bapak itu jual satu gelas aqua rp 2000,- , nahh setelah nawar dapat satu gelas rp 1500,- . setelah nawar lagi bli rp10.000,- dapet `7 gelas, asiikkkkkk.
pulanglah setelah itu dengan hati riang sambil hati bernyanyi duwweeetttt….duweetttt…duweeetttt…(dengan irama orang ngebangunin sahur). sambil teringat waktu SD ampir setiap hari banyak banget yang jual jamblang alis duwet kalo orang jawa yang ngomong. ampir setiap hari pula beli dan makan duwet ini sampe-sampe lidah warna berubah jadi ungu…hehehheheh.
trus enaknya lagi kalo duwetnya di taruh di kantong plastik di kasi garam trus di kocok kuat-kuat sambil badan gerak-gerak mengikuti irama tangan yang memegang kantong plastik. mmmmmmmmm…i will do it lahhh….aaasssikkkkk !!!!!!
surat jaminan untuk memperoleh keringanan biaya rumah sakit / gratis:
Aku sharing ini untuk siapa-siapa saja yang butuh untuk memperoleh Surat Jaminan untuk keringanan pembiayaan Rumah Sakit. Surat ini diperlukan bukan saja untuk yang mempunyai kartu GAKIN, tapi untuk siapa saja yang merasa terbebani dengan biaya Rumah Sakit yang membengkak. Surat Jaminan dapat diperoleh di:
Dinas Kesehatan (Prov DKI Jakarta)
Jalan Kesehatan no. 10 , Telp: (021) 380 0154
Tanah Abang, Jakarta
Loket Penerimaan Surat Jaminan :
09.00 - 12.00
12.00 - 15.00
Loket Pengambilan Surat Jaminan:
14.00 - 15.00
Hari berikutnya: 09.00 - 12.00
SYARAT MEMPEROLEH SURAT JAMINAN UNTUK MEMPEROLEH KERINGANAN BIAYA RUMAH SAKIT / GRATIS:
-
Surat pengantar dari Rumah Sakit
-
Fotokopi Kartu GAKIN / SKTM (surat keterangan tidak mampu, biasanya dari RT dan RW setempat)
-
Fotokopi Kartu Keluarga
-
Fotokopi KTP
-
Rujukan dari PUSKESMAS (kecuali untuk UGD)
-
Verifikasi miskin dari PUSKESMAS
Saran untuk ke Loket supaya tidak membuang waktu banyak:
Berhubung yang mengajukan Surat Jaminan ini banyak sekali, jadi menurut pengalaman ku lebih baik luangkan waktu dua hari. Hari pertama datang ke Loket dengan membawa persyaratan yang lengkap, serahkan surat-surat ke Loket, lalu tinggal saja. Ambil Surat Jaminan di keesokan harinya di Loket yang sama. Karena bilang menunggu banyaklah waktu yang terbuang percuma. tapi jangan datang dengan persyaratan yang tak lengkap, karena bakalan bolak balik nantinya.
CERITA III: suster manis yang aneh
Jakarta, 13 Oktober 2006 - malam ini aku pegi ke budhi asih untuk menengok Ria (Juhriah), anak Tika, orang yang bersih-bersih di rumahku. Tadi pagi Tika nangis-nangis di telp untuk aku bilang ke dokter apa yang terjadi sama anaknya.
Aku datang jam setengah delapan malam kurang, naek ojek kesananya. Setelah ku lihat sih menurut kasat mata, Alhamdulillah kondisi dia lebih baik sekarang, cuma masih lemah karena blom mau makan, hanya sesuap saja. aku coba untuk mencari suster yang bertugas di situ, untuk menanyakan hasil terahir Ria, bagaimana Trombositnya dan kenapa dia tidak di pasang kateter ( slang untuk pipis), karena selama ini Ria pipis di tempat tidur, karena dia masih sangat lemah sekali untuk bilang ke ibunya kalau dia hendak buang air kecil.
" sus, bagaimana pasien Juhriah?" tanyaku
" kenapa?" jawabnya ( suster itu sudah pasang rasa tidak suka, mungkin abis di marahin kali)
"kenapa tidak di pasang kateter?" tanyaku lagi
"kan ada prosedurnya,… di pasang kalau pasien tidak sadar, juhriah masih sadar" jawab suster itu dengan nada tinggi ( lagi PMS kali)
"jangan tinggi sus, saya hanya tanya," jawabku menenangkannya
"saya ngga marah, memang saya seperti ini, tanya sama yang lain" jawabnya mencoba ber dalih kalo dia tidak bicara dengan nada tinggi
" ohhhh…mbak orang medan yahh"
" ya" jawabnya (tersenyum juga)
" mbak seperti teman saya" jawabku tersenyum juga
setelah itu suster itu agak cooling down, dan menjawab pertanyaan ku. walaupun jawabannya tidak seperti yang kuharapkan. bahwa trombosit Ria lebih rendak dari hari waktu dia masuk.
" terima kasih sus" aku mengahiri pembicaraan ku dengan suster itu.
sempat sebelum aku pulang Ria membuka matanya dan tersenyum padaku, Alhamdulillah dia sudah bisa mengenali orang.
Jam 08.30 malam aku pamitan. "cepat baik yahh, jangan mau sakit lama-lama", pesanku pada Ria. (nad)
CERITA II: dokter, mana sumpahmu ?????
Jakarta, 11 oktober 2006 - Malam ini hampir pukul 10.00 malam aku dan keluargaku pulang sehabis buka bersama di rumah kakakku. Belum kami masuk rumah, tetangga ku menyampaikan kalau Tika, orang yang selalu bersih-bersih dirumahku datang mencari kami. Wahhh ada apa nih, pasti ada apa-apa dengan anaknya, Ria, karena memang anaknya sedang sakit.
Panas tubuh Ria sejak kemarin hanya turun sedikit dari hari kemarin kemarin, lidahnya sudah cedal untuk berkata-kata, suka mengingau, kondisi yang tidak sepenuhnya normal. aku berkata kita musti ke RS untuk Opname, karena yang kutakutkan tadinya adalah dehidrasi (kekurangan cairan dalam tubuh). Tubuh Ria terlihat sangat kurus dan lemas tak berdaya. Kami pun memanggil Taksi untuk segera membawanya ke RSUD Budhi Asih dengan berbekal surat pengantar dari dokter dekat rumah Tika. Untungnya, Tika mempunyai kartu berobat untuk orang miskin Jakarta. Lumayan lah karena dia tidak perlu membayar biaya berobat dia, hanya dengan memfoto kopi segempok kartu keluarga, KTP ayahnya dan kartu sementara berobat.
sesampainya di UGD kami disambut dengan tempat tidur untuk segera memperoleh pengobatan secepatnya.
Aku mengatar Ria bersama Tika ibunya dan Ilyas bapaknya. Menurutku Tika seorang yang gigih dan cinta kepada keempat anak-anaknya. Pikiranku melayang-layang sambil berharap mengalami layanan seperti di film ER atau Anatomy Greys….
Berdiri kami di sampingl tempat tidur Ria, berharap cepat ada dokter yang menolong. Tidak ada satupun yang mendekat???? Rumah sakit apa ini…????
ampir setelah 15 menit Dokter gemuk pendek itu pun mendekat dan hanya in action dengan stetoskopnya lalu berkata, apa yang dirasa? (tapi pertanyaan itu terdengar sekali seperti pertanyaan yang sudah dikuar kepala ) dan tidak terlalu pula mendengarkan jawaban kami. Kemudia dia bertanya " Sudah pernah periksa darah ?" ku jawab " sudah" sambil aku memberikan hasil tes darah kemarin waktu aku mengantar Tika pertama kali berobat. Aku pun memberikan surat pengantar dari dokter setempat, dia pun melihat itu sekilas saja.
terdengar dokter itu berkata "mmmmm…priksa darah lagi ya" terdengar suaranya seperti suara dokter sekali. "ok dok" ku jawab.
Setelah mengurus ini itu dengan berbekal foto kopian yang diperlukan untuk pendaftaran dan gratis pembayaran aku pun kembaku ke UGD. Belum satu dokter atau susterpun yang memeriksa kembali ataupun mengambil darah seperti yang dokter itu suruh. 30 menit sudah kami menunggu, gelisah sekali, bagaimana tidak kondisi Ria sudah sangat mengkawatirkan , mulutnya sudah komat kamit tidak tau apa yang dia bilang, menyedihkan RS ini.
Yang membuat aku ingin marah adalah dokter gendut pendek itu hanya duduk sambil berkacap-cakap dan bercanda bersama para suster sambil memegang berkas yang ku rasa tidak perlu karena tidak ada tanda-tanda keseriusan disana…S@#$$%%^^&& (inget bulan puasa)
Setelah hampir 30 menit lebih ku temui dokter itu " dok, gimana ini? dia sudah cedal lidahnya dan saya takut kalau-kalau dehidrasi" dijawab oleh dokter itu " ya ya nanti priksa darah"
lima menit kemudian barulah suster memasang infus dan mengambil darah untuk di cek .
Bagaimana kalau aku tidak menegur dokter itu ?
berapa lama lagi pasien di telantarkan?
Dokter !!! mana sumpahmu. Sumpahmu palsu. Jika terjadi sesuatu dengan Ria kamulah yang akan di mintai pertanggung jawaban nanti.
Kamu tidak mempunyai hati nurani sedkitpun, Busuk hati mu.
setelah hampir 30 menit aku menunggu hasil untuk melihat ada apa di dalam darah Ria, sambil berdoa bahwa dia hanya dehidrasi saja.
Hasil darah pun tidak junjung tiba. kepalaku sudah pusing. aku mendekat kepada suster jaga untuk bertanya, "sus, pengecekan darahnya berapa lama ?"
dijawab oleh suster itu dengan entengnya " sudah di beri surat pengantar ke Lab ?" ku jawab "belum, tidak ada satu dokter ataupun suster pun yang memberitahukanku tentang prosedur ini"
suster itu pun memberikanku surat pengantar untuk ke lab, lalu memanggil temannya "ehh darah ria ada disitu ?" " yap"
Ya Tuhannnnn…., setelah satu jam lebih RS ini tidak berbuat apa-apa, tidak mengkomunikasikan apoa-apa? pengen nangis , marah yang bukan main.
jadi aku yang harus ke lab, aku harus urus semua, itu tidak mengapa , hanya TOLONG PARA DOKTER DAN SUSTER YANG ADA DI RUMAH SAKIT MANA PUN, KOMUNIKASI MU KEPADA PASIENMU DAN KELUARGANYA. jahat sekali kamu.
apa kamu anggap kami ini??? pantas mati? apa karena mereka orang yang tidak membayar lantas kamu ber hak memperlakukan dengan tidak manusiawi? jawab !!!!
Ria, sakit Demam berdarah dan Typus ,menurut hasil lab. sambai sekarang masih mengigau dan masih tidak sepenuhnya sadar. Mohon doanya .(nad)
CERITA I: Orang miskin Dilarang sakit
Jakarta , 9 Oktober 2006 - Pagi setelah subuh pintu rumah ku di ketuk , ehhh Tika, orang yang biasa membantu bersih-bersih di rumah ku.
Dia datang dengan menangis memintaku menemani nya ke RSUD Budhi Asih untuk mengajak anaknya, Ria , berobat. karena panasnya tidak turun-turun dan dia muntah terus dan lemas.
ahirnya kami pun membawanya ke Rs dengan berbekal surat pengantar dari puskesmas yang merujuk ke dokter penyakit dalam , Aku, Tika dan Ria naik mikrolet 06.
sesampainya di RS kamu harus mendaftar untuk psien baru karena Ria sebelumnya belum pernah berobat di RS itu. Untungnya Tika mempunya kartu berobat gratis untuk orang miskin.
Tika memberitahuku bahwa prosedur untuk pendaftaran dan pengobatan di Rs ini rumit. makanya dia memintaku untuk mendapinginya, Tika adalah seorang yang buta huruf.
Setelah aku mengisi formulir untuk pasien baru di lobi aku memberikannya di loket yang ada tulisanya ‘pendaftaran pasien baru’, ternyata aku ditolak. mereka bilang untuk pemegang kartu berobat miskin pendaftarannya ada di lantai 2. kami pun ke lantai 2. aku mencari-cari di mana letak loket untuk itu, setelah salah 3 kali, ahirnya ketemu loket untuk pemegang kartu miskin. Bagaimana mau gampang ketemu bila tidak ada selembar kertas pun yang di tempel untuk keterangan tempat apakah itu gerangan?
setelah mendaftar kami pun mendapat nomer 46, aduh !!!
Ria sudah lemas kondisinya dan tidak dapat berkata apa-apa, harus menunggu setelah nomer kami dipanggir ternyata kami hanya di priksa tekanan darah saja sambil open status, kamu pun keluar lagi dan menungu giliran untuk di panggil lagi.
Apakah tidak ada prosedur yang lebih mudah ya. aku melihat Rs itu seperti pasar tradisional yang huruk pikuk. bagaimana tidak di dalam ruangan yang tidak terlalu luas terdapat 2 meja dokter, 2 tempat tidur pasien , satu meja suster dengan 2 kursi suster. coba bayangkan sempitnya. para pasienpun di panggil bertiga plus pengantar ikut masuk pastinya. wahhhh gila juga nih RS. beda banget sama RS swasta yang dimana orang bayar mahal untuk kesitu, sepi memang seperti halnya RS, tempat orang sakit yang butuh ketenangan.
prosedur untuk para pemegang kartu mikin pun menurut ku teramat rumit. karena setiap loket di haruskan membawa fotokopi kartu keluarga, KTP dan kartu berobat.
kertas reseppun beda untuk pemegang kartu mikin kertas resepnya warna merah jambu.
kesimpulan untuk para warga miskin "OARANG MISKIN DILARANG SAKIT", pengalaman pertamaku tentang bagaimana orang miskin sakit dan aku merasakan ini sangat berharga sekali untuk kita bersyukur atas apa yang telah kita dapat dan untuk lebih mempunyai sedikit perhatian untuk lingkungan kita. bahwa tidak mudah orang untuk menjadi miskin, tidak hanya karena masalah keuangan saja, tapi karena sedikit penghargaan yang orang berikan. Bahwa mereka pantas hidup seperti kita juga.
Yang aku pikir lagi, Bagaimana orang-orang mikin di Indonesia ini tidak mempunyai Kartu berobat gratis. lalu bagaimana yang tinggal di kolong jembatan? TRAGIS !!!! (nad)
masa yang paling menyedihkan adalah bila kamu tidak dapat memberi atau mendapingi orang yang kamu cintai untuk meraih sesuatu. entah itu pasangan mu, sodara maupun kawan
masa yang paling menyedihkan adalah bila kamu mengulurkan tangan tapi dia menolakmu dengan alasan tertentu.
masa-masa itu sebetulnya bisa di lalui bila kita iklas tidak memaksa untuk apa yang terjadi. tidak memaksa "bahwa bersama kamu pasti adalah masa yang paling baik". blom tentu. kamu tidak dapat merangkul dunia dengan tanganmu. tapi dapat dengan hatimu
apakah aku bisa untuk ini semua ??? harus bisa . karena iklas adalah kunci untuk semuanya. InshaALLAH.
pagi jam delapan pagi kakak ipar ku telp dan mengabarkan kalau kakakku Nabil telah di rampok jam 4.30 pagi tadi. syok tentu saja, buntu rasanya pikiran. tapi Alhamdulillah,yang utama adalah kakakku, istri dan kedua anaknya selamat. memang sih kalo harta itu bisa dicari kembali, yang penting nyawa dan tidak di apa-apakan.
tapi apakah trauma itu begitu saja hilang? tidak tidak segampang itu. stress yang mereka buat itu merebut kedamaian orang. merebut damai yang tadinya ada serta merampas hak milik orang lain. kenapa tidak semua orang di dunia ini berbuat baik saja? kalo mau jahat, ya jangan jahat-jahat amat. yang tidak termaafkan adalah keponakanku yang belum genap 7 tahun melihat ayahnya di ikat, di todong pistol dan melihat pula ibunya di ancam dengan golok. apa yang ada dipikiran anak itu? apakah dia akan lupa? aku saja sudah setua ini masih ingat kejadian-kejadian yang menakjubkan di masa kecilku.
sekali lagi,Alhamdulillah semua selamat,InshaAllah Allah SWT mengganti apa yang sudah hilang, yang utama adalah mengganti kedamaian itu. Dan InshaAllah perampok itu sadar dan menjadi orang baik-baik demi kedamaian hidup orang lain dan dirinya. Amien








